WHY? [Chapter 2]

Title: WHY? [Chapter 2]
Author: Laras (@Laras794)
Length: Chapter
Ratted: Teen (Sewaktu-waktu bisa berubah)
Genre: Romance, angst
Cast:
– Kim Hayeon
– Oh Sehun
– Other

why

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Bisakah aku bertahan? Bertahan lebih lama lagi dalam kesendirian karena ketakutan dan mencintai dirinya. aku kesepian tapi rasa takutku lebih besar, aku takut dikhianati untuk kedua kalinya.

Haruskan aku belajar mempercayai seseorang? Mempercayai seseorang seperti dulu meskipun harus tetap berhati-hati.

Operasi plastik

Masih teringat lekat di pikiranku ketika dia mengatakan diriku operasi plastik. Apakah aku salah jika aku berubah? Aku tak merubah apapun dalam diriku, aku Cuma merubah mataku yang tadinya memakai kacamata dan sekarang tak memakai kacamata.

Apa semua itu kulakukan salah? Apa hanya dengan perubahan ini semua orang berpikir kalau aku ini operasi plastik. Aku tak mau melakukan hal sehina itu, aku tak mau merusak apa yang telah diberikan tuhan untukku.

Kuakui dulu aku sempat berencana seperti itu tapi ada seseorang yang mengatakan wajahku sudah baik tak perlu ada sentuhan pisau bedah lagi hanya cukup melepas kacamataku.

Aku tak merubah wajah alamiku ini, aku Cuma ingin orang lain melihat diriku yang sebenarnya. Diriku yang cantik tanpa sentuhan pisau bedah. Dokter Cho bisakah kau membantu rasa percaya diriku untuk kembali kepadaku? Dia sudah pergi terlalu jauh.

Dokter Cho Kyuhyun adalah dokter yang menyarankan diriku untuk tak melakukan operasi plastik. Dia bilang diriku sudah cantik cukup dengan sentuhan kecil dalam diriku aku sudah bisa berubah. Padahal dia Cuma dokter umum tapi dia bisa mengatakan itu dan kembali membuatku percaya diri dengan diriku yang alami.

‘Cantik alami itu adalah kecantikan yang terbaik di dunia ini’

Aku sangat mengingat jelas kata-katanya itu, kata-kata itu juga yang selalu kujadikan fondasi dalam ketegaran hatiku dalam masalah penampilanku. Dokter Cho terima kasih, suatu saat nanti aku akan menemuimu dengan seseorang yang telah menerima kecantikan alamiku.

Kulangkahkan kakiku perlahan menuju ke ruang kelas yang ada di lantai 3. Sempat ada kejanggalan ketika ku melihat sekitarku, mereka menatapku dengan tatapan menghina. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku berbuat salah?

“Cih tak percaya ternyata gadis sepolos dia operasi plastik. Kupikir kecantikannya alami” cibir segerombolan yeoja yang berjalan menuruni tangga berlawanan arah denganku. Aku terdiam menatap mereka, operasi plastik?

——————

Kutatap ponselku lekat-lekat mencoba mempertimbangkan untuk menelepon seseorang yang akan menjadi penyemangatku. Kutatap langit yang masih seperti kemarin begitu suram. Saat ini aku sedang berada di atap kampusku duduk di sudut pembatas gedung kampus ini. kuputar ponselku yang ada di atas lantai masih mempertimbangkan untuk menelepon Dokter Cho. Aku jadi merindukannya, sudah lama aku tak bertemu dengannya sekitar 3 bulan sejak dia pindah ke Busan.

Aku memilih membolos kuliah daripada harus kuliah mendengar gunjingan operasi plastik mengenai diriku di kelas. Itu semua membuatku risih dan sakit hati. Siapa yang menyebarkan gosip inipun aku tak tahu tapi kuharap bukan Sehun. apakah dia setega itu melakukan itu kepadaku?

Ckrek

Kudengar suara pintu menuju atap terbuka. Kupasang kedua mataku mengarah ke pintu itu dan kutemukan 2 namja yang kemarin bertemu denganku di tempat kerjaku. Byun Baekhyun dan seorang temannya yang kalau tak salah teman baik Sehun juga. Mereka menangkap sosok diriku yang berada di sudut atap ini lalu tersenyum ke arahku, akupun tersenyum singkat kepada mereka.

Baekhyun berlari kecil ke arahku disusul temannya itu. dia kembali tersenyum lalu duduk di depanku melepas tas ranselnya itu di depan kami, namja yang satunya lagi bersandar di sampingku lalu menaruh paper bag berwarna putih di dekat tas Baekhyun. Mereka sepertinya juga membolos.

“soal gosip itu, jangan pedulikan ya” tegur Baekhyun kepadaku, akupun tersenyum dan mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun. Baekhyun mengambil sesuatu dari tasnya, dia menarik tanganku dan menaruh satu kotak minuman kemasan di atas tanganku. “minumlah, ini sebagai salam perkenalan karena kita dulu tak pernah akrab” jelasnya dan aku kembali mengangguk.

Apakah ini saatnya aku untuk mempercayai seseorang seperti Baekhyun?
“Ya! mana bagianku” sungut namja di sampingku mengulurkan tangannya ke arah Baekhyun meminta jatahnya dengan wajah cemberutnya seperti anak kecil dan membuatku sedikit terkikik melihatnya, “Ya! ppalli, aku haus~” rengeknya dan kembali membuatku terkikik melihatnya, sikapnya tak cocok dengan wajahnya.

“arra” jawab Baekhyun lalu mengeluarkan satu kemasan minuman lagi dari tasnya dan memberikannya kepada namja itu. namja itu terlihat kegirangan dan langsung meminum minuman yang diberikan Baekhyun itu. “Ah iya, Hayeon. Kamu pasti belum kenal, dia Chanyeol. Sahabat terdekatku” ucap Baekhyun menepuk-nepuk Kaki Chanyeol yang dipanjangkan sehingga menjulur ke arah Baekhyun.

“Annyeong” sapa Chanyeol kepadaku singkat mengangkat satu tangannya ke arahku.

“Annyeong” balasku tersenyum kepadanya.

“Baekhyun” panggil Chanyeol kepada Baekhyun dan dibalas gumaman Baekhyun yang tengah asik mengorek isi tasnya itu. “Kau benar. Dia manis, untukku saja ya” ucapan Chanyeol membuatku bingung, manis? Maksudnya minumannya itu, tapi setahuku yang diminumnya jus jeruk yang terasa asam.

Apa ada rasa yang baru?

“andwae, aku lebih dulu!” elak Baekhyun dan dibalas tatapan tak mengenakan dari Chanyeol.

——————-

Perlahan kulangkahkan kakiku keluar dari gedung kampusku, aku berdiri di tengah keramaian orang-orang yang keluar dari kampusku. Aku berdiri menatap langit yang sejak kemarin masih saja suram tapi tak lama kulihat sesuatu yang putih seperti kapas turun dari langit. Aku tersenyum menatap salju yang turun saat ini. salju pertama di tahun ini, semoga musim ini bisa menemaniku dalam kebahagiaan bukan kesedihan.

Kurapatkan coatku mencoba menghilangkan rasa dingin yang mulai menjalar dalam tubuhku. Kulangkahkan kembali kakiku keluar area kampusku menuju tempat kerjaku. Hariku ini tak pernah berhenti dari namanya kegiatan. Pagi hari aku bekerja di Coffe shop, siang hari aku pergi ke kampus, dan malam hari aku bekerja di salah satu Café yang juga dekat dengan lokasi kampusku dan apartemenku.

Tak butuh waktu lama dalam waktu 15 menit berjalan kaki dari kampusku hingga akhirnya aku tiba di tempatku bekerja. aku segera masuk ke ruang karyawan dan mengganti pakaianku dengan seragam khusus pekerja disini. Setelah aku siap, aku segera melakukan pekerjaanku. Aku bertugas melayani dan mencatat pesanan para tamu. Aku bekerja disini baru sekitar 1 bulan. Aku tak merasa kesepian disini karena ada salah satu teman satu kampusku yang sama-sama bekerja disini.

Jam menunjukan pukul 20.12, pintu café terbuka dan masuklah seorang namja dan seorang yeoja bergandengan tangan. Mereka duduk di dekat kaca, wajah mereka masih terlihat samar karena lampu disini memang kurang terang agar mendukung suasana romantis di malam ini. aku segera membawa daftar menu lalu berlari ke arah mereka tapi aku langsung terdiam begitu melihat sosok kedua orang itu. mereka menatapku, namja itu menatapku lalu kembali beralih kepada menu seakan aku objek yang tak berguna sama sekali sedangkan yeoja itu sempat tertegun tapi aku langsung terkejut begitu mendengar yeoja itu terkikik menatap diriku.

“silahkan mau pesan apa?” tanyak berusaha setenang mungkin, aku melihat mereka nampak mempertimbangkan menu yang akan mereka pilih saat ini. mereka terus membolak-balik daftar menu itu mencoba mencari menu yang dirasa mereka cukup menarik untuk mereka santap.

“kau tak berubah Kim Hayeon” ucap yeoja itu santai dengan tatapan yang tetap ia tujukan kepada menu itu. aku diam tak bergeming, sesekali aku hanya mengangguk singkat. “hanya sedikit lebih baik saja sekarang” lanjutnya terdengar menghina diriku. Sabarlah Kim Hayeon.

“lebih baik karena melakukan operasi plastik-kan” sambung namja yang duduk di depannya, aku langsung terkesiap dibuatnya. Aku merunduk menatap catatan yang akan kutulis dengan pesanan yang mereka pesan. Ini kedua kalinya, tak tahukah dia kata-katanya itu sangat menyakitkan?

Baiklah, aku beritahu kalian. Mereka adalah orang yang aku pernah ceritakan sebelumnya. Yeoja itu adalah teman yang dulu sangat kupercaya sebagai tempat aku mencurahkan hatiku, yeoja yang dulu selalu bersamaku saat SMU dan mengkhianatiku, Han Sarang. Namja di depannya adalah namja yang dari dulu sampai sekarang masih sangat kucintai meski telah menyakitiku berulang kali tanpa ia sadari, Oh Sehun.

“oh ya Kim Hayeon. Apa perasaanmu sampai sekarang pada Sehun masih sama?” tanya Sarang mengalihkan pembicaraan dan menatapku meremehkan sedangkan aku tetap memilih merunduk. “sepertinya kamu masih mencintai namjachinguku ini, benar begitu Kim Hayeon” ledeknya dan sebisa mungkin aku menenangkan diriku sendiri, aku tak boleh membuat masalah disini.

“mianhae, tolong pesanannya saya harus melayani yang lainnya juga” ujarku sesopan mungkin kepada mereka.

“cis.. Cuma pelayan saja berani menyuruh kita. Lihatlah dia yeoja ini sangat fanatik kepadamu, dia cinta padamu sejak kita di SMU” ucap Sarang dan membuatku kembali terdiam, dia membeberkan semuanya tapi aku tak bisa berbuat apapun saat ini. ini keterlaluan tapi aku takut untuk melawan.

“jangan harap, aku tak suka yeoja yang melakukan operasi plastik” jawab Sehundengan santai dan mata yang tetap tertuju pada menu yang sedang ia pilih.

“kau dengar itu Cha Hayeon kau tetap yeoja bodoh seperti dulu” cibir Sarang kepadaku.

Apakah ini batas kesabaranku?

Aku rasa aku sudah tak tahan lagi jika terus seperti ini?

Aku rasa ini adalah akhir dari perjuanganku untuk mencintainya?

“nae, aku memang bodoh.” Jawabku dan membuat mereka menoleh menatap diriku, kurasa air mataku mulai menggumpal di sudut mataku. “aku bodoh karena telah mempercayai dirimu, Sarang. Aku bodoh karena tak pernah mau menyapa dirimu Oh Sehun. aku bodoh bahkan sangat bodoh karena bisa-bisanya aku masih bertahan mencintaimu selama 4 tahun ini”

BRAKH

Aku menjatuhkan nampan dan daftar menu yang kupegang karena tanganku yang terasa begitu lemas. Aku menatap mereka dengan pandangan yang terlihat kabur. Sekali kukedipkan mataku air mataku telah turun dengan segera aku menyeka air mataku.

“tak bisakah kalian tak menghinaku?” tanyaku lirih kepada mereka. “apa salah kalau aku berubah? Aku tak pernah melakukan operasi plastik. Memang itu sempat terpikir dalam pikiranku tapi aku tak melakukan hal hina itu, kecantikan alami itu lebih baik. Aku tahu Sarang melakukan operasi pada matanya. apa kau tak pernah memperhatikan itu Oh Sehun? lalu APA AKU SALAH KALAU AKU BERUBAH SEPERTI INI??? APA AKU SEHINA ITU DI MATAMU??” bentakku dan dengan cepat air mataku kembali menyeruak.

“KIM HAYEON! APA-APAAN KAU? KAU KUPECAT!!” teriak managerku dari belakangku dengan jarak yang lumayan jauh. Aku menatap managerku lalu melepas celemek itu dan melemparkannya ke arah meja tempat Sarang dan Sehun duduk. Aku berlari ke belakang dan segera merapihkan semuanya.

————————-

Aku menutup rapat pintu belakang Café yang telah menjadi mantan tempat ku bekerja. kulewati jalan sempit menuju jalan keluar dari jalan samping café itu.

aku terdiam, kakiku terasa lemas. Aku meluapkan emosiku, aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Aku tak pernah semarah ini, aku.. kenapa aku seperti ini? Sehun, maafkan aku.

Kusandarkan tubuhku di dinding dan memperosotkan tubuhku. Aku memilih menangis membiarkanku dihujani salju yang semakin melebat. Aku ingin hatiku ini lega setelah menangis, aku ingin setiap air mata yang keluar mewakili masalah yang pergi dari pikiranku. Aku ingin bebanku hilang bersama air mataku tanpa ada yang tersisa sedikitpun.

Jika aku mati apa semuanya akan hilang?

“apa aku harus mati saja?” tanyaku pada diriku sendiri namun aku malah merasakan sesuatu terlampir di tubuhku. Ada seseorang yang menaruh sesuatu untuk melindungi diriku dari salju yang menghujaniku. Hangat..

“jangan berpikir untuk mati” ucapnya dengan suara yang terdengar cukup lembut namun berat, suara khas laki-laki. Dia berlutut di depanku menyentuh kepalaku, aku yang tadinya memendamkan kepalaku di kedua kakiku yang tertekuk menatap orang itu. kenapa dia ada disini?

To Be Continued

Iklan

5 thoughts on “WHY? [Chapter 2]

  1. Ah..akhirnya kau publish ff juga chingu..
    Aku terlalu lelah untuk menunggumu lagi..#pllak
    hahaha
    keren..selalu keren ff-mu
    life circle d publish dong chingu..
    Semangat^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s