WHY? [Chapter 3]

Title: WHY? [Chapter 3]
Author: Laras (@Laras794)
Length: Chapter
Ratted: Teen (Sewaktu-waktu bisa berubah)
Genre: Romance, angst
Cast:
– Kim Hayeon
– Oh Sehun
– Han Sarang
– Lee Taemin
– Cho Kyuhyun
– Other

why

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Dibangunkannya tubuhku ini, ditepuknya celana jeansku yang penuh dengan salju. Tangannya mulai kembali merapatkan jaketnya di tubuhku. Tangan kirinya terulur perlahan menggenggam tangan kananku sehingga membuat tanganku terasa menghangat. Wajah manisnya menunjukan senyumannya kepadaku, dia menghapus air mataku yang tersisa di mataku dengan tangan kanannya. Aku terdiam dan dia mulai menarik tanganku untuk berjalan bersamanya.

“aku akan antar kamu pulang”

“tidak perlu” aku mengelak mencoba melepas pegangannya tapi dia tetap menggenggam tanganku tak membiarkannya lepas sedikitpun. “mau apa kau kesini? Mau menghinaku lagi? Belum puaskah dirimu, Oh Sehun?” ucapku sengit kepadanya lalu melemparkan jaketnya yang terselampir di tubuhku tak tentu arah. Aku berjalan meninggalkannya, tubuhku sempat terhuyung karena pundakku yang bertabrakan dengan tubuhnya namun aku masih bisa menyeimbangkan diriku lagi.

“kau mulai membenciku?” tanyanya dari belakangku, aku menoleh ke arahnya dan dia masih belum beranjak sedikitpun. Aku diam lalu kembali membelakanginya dan berjalan kembali meninggalkan dirinya tanpa menjawab pertanyaannya sedikitpun. aku sudah mulai membencimu meski perasaanku padamu masih ada, aku berharap kau membuatku makin membencimu dengan sikap kasar dan dinginmu kepadaku.

kalau aku dan dia tak berjodoh untuk kali ini kumohon, buat aku membenci dirinya, buat aku tak mencintainya lagi, dan buat aku melupakan semua tentangnya. Jika itu harus dengan lupa ingatan sekalipun kecuali untuk melupakan keluargaku dan dokter Cho. Kalau aku melihatnya lagi rasanya aku mengorek semua perasaanku padanya dan memoriku akan dirinya termasuk ketika dia menghinaku dan mengabaikanku.

“tunggu” kali ini aku tak mendengar suaranya tetapi malah suara yeoja pengkhianat itu. aku menoleh ke arah kiriku dan melihat dirinya berdiri disana menyilangkan berkacak pinggang dengan gaya angkuhnya itu. “kau terlalu bodoh berharap Sehun akan mengasihanimu dengan air mata buayamu itu. jangan harap. Bahkan kau sangat bodoh karena tetap memendam perasaanmu sampai akhir. See, aku yang berjalan lebih dulu hingga akhirnya ia memilihku. Dari dulu sampai sekarang kau memang melekat dengan image bodohmu itu, benar kan Kim Hayeon?” ucapnya dengan nada yang terdengar menyindir diriku.

Aku diam tak menanggapinya sedikitpun. Semua yang dikatakannya benar kecuali kalimat pertamanya berharap Sehun mengasihaniku, aku sama sekali tak berharap dia mengasihaniku aku malah sangat berharap dia semakin membenciku. aku terlalu bodoh untuk memendam semua perasaanku dan aku terlalu bodoh untuk mencintainya dalam diam tanpa bertindak sedikitpun sampai akhirnya dia merebutnya dariku. Bukan, Sarang mendahuluiku bukan merebutnya karena Sehun tak pernah sekalipun menjadi milikku.

“aku memang bodoh bahkan sangat bodoh karena memendam perasaanku padanya dan mempercayai pengkhianat sepertimu” balasku kepadanya lalu berjalan meninggalkan mereka yang terpaku disana. Aku mendengar teriakan protes Sarang kepadaku tapi aku tak peduli, dia memang pengkhianat.

————————

“kau sudah sampai rupanya” teguran seseorang padaku membuatku mengalihkan pandanganku dari arah bawah yang sejak tadi merunduk.

Aku melihat seseorang bersandar di pintu apartemenku, aku terdiam menatapnya yang sudah tersenyum sejak tadi ke arahku. Dia orang yang dulu masuk ke dalam kehidupanku dan sekarang kembali, kenapa dia membuatku semakin dilanda rasa bersalah.

“T-taemin-ssi, a-apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dalam keraguan dan lagi-lagi rasa bersalahku menghampiri diriku tentang kejadian 3 tahun lalu yang membuat diriku harus menghindarinya dan meninggalkan dirinya.

Dia berjalan menghampiriku, dia tersenyum ke arahku sejak tadi dan senyuman itu belum luput juga sejak tadi. Wajah cantiknya ternyata tak berubah juga, dia tetap cantik. “jangan panggil aku seperti itu, panggil aku seperti dulu. Oppa.” pintanya padaku sembari menggerakan tangannya meyibakan rambutku ke belakang telingaku. Aku bergerak menjauhinya sedikit karena masih tak percaya dia berada disini.

“kamu mau menghindariku lagi?” tanyanya dengan pandangan yang begitu nanar.

“b-b-bukan begitu a-aku..”

“Baguslah. Boleh aku masuk?” ucapanya memotong perkataanku dengan permintaannya sembari menunjuk pintu apartemenku. Akupun mengangguk, dia terlihat kedinginan. Berapa lama dia disini? Tangannya gemetar, pasti dia menunggu lama disini.

Aku mengambil sarung tanganku yang ada di saku coatku, aku menarik tangannya dan memakaikan sarung tanganku di tangannya. dia sempat terkejut tapi ketika aku menatapnya kembali dia malah tersenyum menatapku. Setelah itu aku membuka pintu apartemenku dan masuk diikuti dirinya. aku berjalan ke dapur untuk menyiapkan cokelat panas untuknya setidaknya dia bisa meredakan rasa dinginnya dengan cokelat panas. Dia masih mengikutiku hingga sekarang aku yang sedang menyiapkan minum terus diikuti dirinya yang berdiri di belakangku.

“oppa duduk saja. Maaf berantakan” ujarku tanpa menoleh kepadanya sedikitpun karena terlalu sibuk dengan minuman yang sedang kubuat untuk kami berdua.

Setelah aku menyiapkan dua gelas cokelat panas aku segera berbalik tapi rupanya dia masih berdiri di belakangku sehingga aku terkejut dan nyaris saja menjatuhkan cokelat panas di tanganku kalau dia tak segera memegang gelas di kedua tanganku ini. aku baru sadar kalau jarak kami begitu dekat bahkan terlalu dekat. Akupun mundur selangkah menjauhi diri darinya lalu menyodorkan gelas di tangan kananku ke arahnya. Aku memilih mengalihkan diriku dengan meminum cokelat panas di tangan kiriku, aku yakin wajahku terlihat merah saat ini.

“gomawo” dia menerima gelas itu dari tanganku dan menyesapinya. Aku duduk di ruang makan begitu juga dia yang duduk berhadapan denganku. Aku memilih diam karena aku memang tak tahu apa yang harus kukatakan padanya. dia datang secara mendadak dan ketika melihatnya membuat diriku kembali merasakan rasa bersalah yang menimpaku saat itu.

“aku dengar kamu satu kampus dengannya?” tanyanya dengan menatap mataku intens. Aku mengerti siapa yang dimaksud olehnya itu, siapa lagi kalau bukan Oh Sehun. dia tentu tahu, kami satu sekolah saat SMA dan kami satu ekstrakurikuler yaitu dance. namja di depanku inilah yang selalu mengajarkan diriku dance tidak dengan Sehun.

akupun mengangguk pelan, aku melihat dirinya tersenyum miris ketika aku membenarkan pernyataannya. “Kamu masih menyukainya?”
Aku harus menjawab apa? Aku memang masih menyukainya tapi aku memutuskan untuk berakhir. “i-iya tapi..”

“sudah kuduga” potongnya ketika aku belum menyelesaikan kata-kataku. “aku kira aku masih punya harapan. Kamu begitu mencintainya. Aku datang karena terus memimpikanmu, aku sungguh merindukanmu Kim Hayeon” ucapnya memandang diriku dengan begitu tulus.

“aku belum selesai bicara” kataku pelan. Diapun langsung menaikan alisnya kebingungan. “dia sudah tahu perasaanku” ucapku sembari merunduk menahan rasa sakit yang ada di dadaku. Aku terlalu sakit setiap mengingat apa yang ia lakukan kepadaku selama ini hingga akhirnya aku memutuskan menyerah.

“lalu kamu bersamanya?” tanyanya dengan nada yang tak mengenakan. Sebenarnya mengenakan untukku tapi untuk dirinya yang seakan tersisihkan. Aku menggeleng pelan lalu menatapnya nanar sembari tersenyum tipis. “lantas?” herannya dan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan.

“aku memutuskan untuk berhenti mengharapkannya terlebih lagi mencintainya” lirihku dan meninggalkan jejak keheranan lagi di dirinya, “rasa sakit itu melekat di diriku ketika mendengar dirinya yang menghinaku tanpa bukti yang pasti terlebih lagi Sarang yang sudah membeberkan semua perasaanku padanya. aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku, dan aku sudah terlanjur membencinya yang telah menghina diriku tapi aku tahu kalau aku masih sangat mencintainya” suaraku kini terdengar begitu getir dan perlahan air mataku yang tadi menggumpal di sudut mataku entah sejak kapan mulai meleleh membasahi pipiku.

“soal operasi plastik?” tebaknya dan aku langsung melebarkan mataku menatap dirinya tak percaya. Bagaimana dia bisa tahu? ”kabar yang mengatakan kalau dia menghinamu karena operasi plastik dan kini menjadi gosip satu kampusmu. Bagaimana bisa dia menghinamu seperti itu, aku tahu wajahmu tak pernah berubah sedikitpun sejak dulu. Cuma karena kamu sudah tak memakai kacamata dan kepang andalahnmu itu dia menuduhmu operasi plastik” dia terdengar geram, aku memilih merunduk walau pikiranku masih bertanya-tanya darimana ia tahu semua itu.

Dulu aku sangat dikenal sebagai anggota dance terjelek karena penampilanku dan skill dance ku yang tak ada spesialnya sama sekali bahkan jauh dibawah rata-rata. Dari anggota dance yang menganggapku ada sebagai anggota mereka hanya namja di depanku ini. dia adalah sunbaeku yang berada 1 tahun di atasku. Kami cukup dekat karena dia adalah tetanggaku di rumah kami yang dulu kami tempati. Setelah lulus dia pergi ke Jepang tapi ternyata dia malah kembali dan menemuiku saat ini.

“bagaimana oppa tahu?” tanyaku kebingungan tapi dia malah tersenyum ke arahku lalu tangan kanannya menjulur dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“percaya atau tidak aku adalah mahasiswa pindahan di kampusmu sejak 2 bulan yang lalu. kamu tak menyadarinya?” tanyanya dan membuatku kembali menatapnya dalam kebingungan. 2 bulan yang lalu? bukankah itu waktu yang cukup lama tapi kenapa aku tak pernah menemukan dirinya? “kamu tidak berubah selalu sendirian sama seperti waktu SMA sejak kamu dan Sarang tak berteman lagi”

Namja ini terlalu mengerti diriku melebihi diriku sendiri sejak dulu. mengenai rasa bersalahku padanya itu karena 2 tahun yang lalu aku menjadi yeojachingunya. Aku melakukan itu untuk mencoba melupakan namja bernama Oh Sehun tapi setelah beberapa bulan kami berhubungan dia tahu pasti kalau aku tak memiliki perasaan apapapun padanya. aku tak pernah mengungkapkannya tapi dia mengatakan kalau ia tahu dari tatapan mataku yang selalu menatap Oh Sehun bukan Lee Taemin. Dia tak keberatan tapi setelah dia mengetahui semuanya aku tak mau membuatnya lebih tersakiti dan memilih untuk mengakhiri hubungan kami. Akhirnya setelah lulus dia pindah ke Jepang, kami tak pernah berhubungan lagi hingga akhirnya, dia telah kembali lagi.

“aku akan selalu disisimu meski seburuk apapun kondisinya”

—————————–

Ternyata memang dia memegang kata-katanya itu untuk tetap disisiku seburuk apapun kondisinya. Hari ini aku dan dia berangkat bersama. Tadi ketika aku pulang dari coffe shop tempat ku bekerja dia sudah di depan coffe shop dengan mobilnya itu. dia mengajakku untuk berangkat bersamanya, aku sempat menolak tapi dia tetap bersikukuh.

Sekarang kami berjalan bersama dari parkiran kampus menuju gedung kampus kami. Semua orang di sekitar kami menatap kami heran, jarang sekali seorang Kim Hayeon mempunyai teman sedekat namja ini yang mau berangkat bersama.

“oppa ini untukmu” aku merogoh isi paper bag di tanganku yang berisi bekal yang diberikan ahjumma Kim pemilik Coffe shop dan beberapa barang lainnya yang sengaja kumasukan disana. Aku memberikannya minuman kemasan yang masih kuhafal betul kesukaannya sejak dulu, susu pisang. “oppa suka ini kan?” tanyaku masih menyodorkan susu pisang itu ke arahnya.

Dia tersenyum menatapku lalu mengambil susu pisang itu dari tanganku. Tangannya bergerak ke arah kepalaku dan mengacaknya pelan. “Kamu masih ingat rupanya. Gomawo Hayeon-ah” ucapnya lalu langsung meminum susu kemasan itu setelah memasukan sedotan ke dalam susu itu. “huwaahh~ mashita. Ini sepertinya bukan susu kemasan yang sering dijual di tempat umum?” dia menatap susu kemasan itu heran.

“itu susu yang hanya ada di coffe shop tempat ku bekerja. untuk susu pisang itu aku yang membuatnya. Aku ingat dulu aku pernah membuatkanmu susu pisang jadi aku mencoba untuk memproduksinya disana” jelasku dan dia langsung memandangku takjub.

“aku sumber inspirasimu ternyata. Aku berarti masih punya harapan” ucapnya lalu kembali meminum susu kemasan itu.

Harapan? Untuk satu itu aku tak yakin aku bisa memberikanmu harapan.
Aku dan Taemin oppa berjalan memasuki gedung kampus kami. Kami terus saja menjadi pusat perhatian setiba kami di dalam, aku berjalan ke ruang kelasku dan Taemin oppa terus mengikutiku sejak tadi sampai aku duduk di bangku ruang kelasku. aku tak memulai perbincangan di antara kami karena aku tak tahu harus mengatakan apa. Terlalu canggung ketika mengetahui kenyataan aku pernah meninggalkan namja di depanku ini dan dia memilih bertahan disisiku. Ternyata Tuhan memberikanku kesempatan untuk mengalihkan diri darinya, dia didatangi oleh teman perempuannya.

“Taemin sedang apa disini? Lee Saem mencarimu” tegur yeoja itu yang langsung masuk ke dalam ruang kelasku tanpa canggung sedikitpun.

Taemin oppa mendecak kesal karena merasa terganggu. “ppalli-wa, dia bilang kamu harus latihan lagi” jelasnya sepertinya dia latihan dance, Lee saem memang dosen jurusan dance jadi aku tak heran ia pasti memanggilnya untuk latihan dance.

“Ayolah Krystal tak bisakah kamu memberikanku kesempatan beristirahat sehari saja” dengusnya sebal dengan dahi yang ditekuk. Tapi yeoja yang dipanggil Krystal itu menggeleng dengan santainya.

“Lee saem kejam sekali” cibirnya kesal.

“Saem yang menyuruhmu bukan aku, cepat kau cuma membuang waktuku saja hanya untuk memanggilmu” ucap Krystal yang nampaknya tak kalah kesalnya dengan Taemin oppa.

Taemin oppa pun berdiri, aku yang duduk melihat ke atas karena posisinya yang berdiri. Dia tersenyum ke arahku lalu mengelus rambutku pelan. Aku kebingungan, aku Cuma berharap dia segera pergi terlalu tak nyaman suasana ini untuk diriku sendiri. rupanya dia menahan kepala belakangku dan dia mendekat, dia mencium dahiku. Aku sukses dibuatnya terkejut dengan mata yang tak kunjung berkedip.

Ketika aku sadar kembali dia telah melenggang pergi bersama yeoja itu. aku melihat sekitarku, semua yang ada di kelas menatapku tak percaya dan di dekat pintu berdiri Sehun yang menatapku tak percaya sama sepertiku. Apa dia melihatnya? Akupun menggeleng kepalaku enggan berpikir lebih lama lagi akhirnya mengalihkan pandanganku ke arah luar jendela.

Suasana di kelas jadi tak nyaman. Riuh, aku dapat mendengar mereka yang mencibirku, membicarakanku karena kejadian tadi. Beberapa di antara mereka sudah ada yang tahu siapa Taemin oppa karena mereka adalah teman satu sekolah kami, mereka mengenalnya sebagai sunbae mereka yang selalu membawa nama baik sekolah melalui bakat dancenya.

Ada juga di antara mereka yang mengetahui kalau diriku pernah menjadi yeojachingunya. Aku pasrah, terserah mereka mau bicara apa aku terlalu lelah untuk membalas mereka semua.

———————-

Kelas kami sudah selesai pada jam 3 sore. Aku mulai merasa lapar dan memilih berjalan ke kantin sendirian, kalian tahukan aku tak memiliki teman yang selalu bersamaku hanya teman sapaan saja yang datang dan pergi begitu saja. Aku duduk di meja paling ujung dekat jendela, kukeluarkan bekal yang telah disediakan Kim ahjumma tadi di coffe shop. Aku membuka bekal itu dan ternyata ada tulisan yang dibuat dari sayuran yang berada di atas nasi.

‘Happy birthday, Hayeon’

Tulisan itu sukses membuat hatiku langsung merasakan senang. Aku bahkan lupa ulang tahunku sendiri tapi Kim ahjumma mengingatnya dan memberikan bekal makan siang spesial padaku. Aku tersenyum tapi aku juga merasakan perih karena tak pernah ada yang tahu ulang tahunku.

Aku tak sadar sampai akhirnya air mataku terjatuh dan menjadi semakin deras. Aku mulai terisak, orang-orang disekelilingku mulai menatapku dan membicarakanku mungkin ini kali pertama aku menangis terang-terangan di depan mereka bahkan di depan umum.

Drrt..drrt..

Aku merasakan ponselku berdering di dalam saku coatku. Aku segera mengambilnya ternyata ada panggilan masuk. Kim Ahjumma meneleponku.

Aku segera menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselku di telingaku. Aku mendengar suaranya memanggilku.

“Ahjumma.. “panggilku di tengah isakku.

“Kamu menangis? uljima. Saengil chukahamnida Hayeon. Aku berharap kamu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kamu harus jadi yang terbaik arra?” ucapnya dengan nada yang menyemangatiku.

“gomapseumnida ahjumma. aku sayang pada ahjumma seperti aku menyayangi Eommaku” ucapku di tengah tangisku dan ahjumma terdengar membalasnya dengan gumaman.

“nae, ahjumma sudah menganggapmu seperti anak sendiri jadi jangan sungkan, Taeyeonpun sudah menganggapmu seperti adik sendiri” jelasnya mencoba menenangkan diriku. “kenapa kamu menangis bukankah ini saat yang bahagia untukmu?” tanyanya keheranan karena aku bukannya menunjukan rasa senangku tapi malah menangis. ahjumma harus tahu ini adalah air mata bahagiaku.

“ahjumma tahu kan kalau aku sendirian, orang tuaku meninggal 5 tahun yang lalu dan aku tinggal sendiri saat ini” ucapku dibalas gumaman oleh Kim ahjumma. “selama 2 tahun tak ada yang pernah mengetahui ulang tahun kecuali diriku sendiri. aku berharap ada seseorang yang mau memberiku selamat dan akhirnya saat ini ahjumma.. hiks.. aku senang karena ada orang yang mengingatnya..” ucapku lirih.

“uljima Hayeon. Pulang kuliah datanglah ke toko, kami menyiapkan sesuatu untukmu” ujarnya padaku dan aku hanya mengangguk tanpa diketahui oleh ahjumma. “kamu pasti kesepian, kali ini ada Ahjumma jangan merasa kalau kamu sendirian di dunia ini” jelasnya dan semakin membuat diriku terisak.

“kamsahamnida Ahjumma. aku akan datang nanti” balasku lalu dilanjutkan dengan telepon kami yang sudah terputus dan kutaruh ponselku di saku coatku.

Kutatap bekalku dan tersenyum melihat bekal yang unik itu. aku menyeka air mataku. Ketika hendak menyantap bekal itu tiba-tiba saja ada sesuatu yang berada tepat di depan wajahku. Kue ulang tahun dilengkapi dengan lilin berangka 19 yang menyala di atasnya. Aku diam sejenak sampai akhirnya wajah sang pembawa kue terlihat olehku.

Namja itu berdiri tepat di sampingku dan tersenyum kepadaku. Aku melirik ke sekitarku dan ternyata semua orang di kantin menatap kami.

“Saengil chukahamnida, Kim Hayeon” ucap namja itu dengan riang lalu menaruh kue itu di meja tepat di depanku. “make a wish dan tiup lilinnya” pintanya lalu duduk di sampingku.

Dia menatapku menyuruhku segera meniup lilin itu, aku menatapnya sekilas sampai akhirnya aku mulai menutup mataku dan membuat permohonan. ‘buatlah aku merasakan kebahagian dunia dan akhirat’ hanya itu harapanku dan kutiup lilin itu. lagi-lagi air mataku meleleh, dia orang kedua yang mengucapkannya. Dia masih ingat ulang tahunku yang bahkan orang lain tak pernah mengetahuinya sama sekali.

“uljima” dia menyeka air mataku dengan ibu jarinya tapi air mataku semakin menderas karena aku merasakan kebahagian ketika ulang tahunku datang kembali. Aku segera menghambur memeluknya dan membenamkan kepalaku di pundaknya, air matakupun membasahi hoodie yang dipakainya. “kenapa menangis?” tanyanya heran.

“Gomawo Taemin oppa. 2 tahun aku merayakan ulang tahunku sendirian tanpa seseorang yang memberiku selamat sampai akhirnya hari ini tiba ahjumma dan oppa, gomawo” gumamku namun masih terdengar oleh telinganya. Dia melepaskan pelukanku dan memberikanku 3 buah kotak dibungkus dengan kertas kado warna warni. “ini apa?” tanyaku heran dan dia tersenyum lalu menepuk-nepuk kado itu.

“aku sudah melewatkan dua kali ulang tahunmu. Jadi kuberikan 3 kado untuk mewakili setiap tahun ulang tahunmu sejak kita berpisah. Kado paling bawah adalah kado 2 tahun lalu, yang di tengah kado tahun lalu, dan yang paling atas adalah kado untuk hari ini” jelasnya lalu akupun tersenyum mendengarnya, dia sungguh tahu ulang tahunku. “oh ya, tadi di kantor Lee saem ada seorang namja yang mencarimu. Dia mencari yeoja bernama Kim Hayeon.” Kata-katanya membuatku bingung, siapa yang mencariku disaat seperti ini?

“sepertinya dia teman Lee saem, kalo tak salah namanya Kyuhyun” jelasnya dalam keraguan tapi mataku langsung melebar begitu mendengarnya. Pasti itu, Dokter Cho. Bagaimana dia bisa sampai disini?

Dia memang dokter umum dan dokter yang menyarankanku untuk tak melakukan operasi plastik tapi apa kalian percaya kalau dia adalah orang yang menemaniku ketika aku menunggu orang tuaku yang dalam keadaan kritis. Aku menangis sejadi-jadinya dan dia menemaniku mencoba membuatku tenang begitu juga ketika aku mendapatkan kabar kematian kedua orang tuaku yang tidak dapat di selamatkan. Dokter yang sangat kupercaya untuk memberikan saran untukku, tapi kami sudah tak bertemu hampir 1 ½ tahun.

“Hayeon-ssi” mendengar suara itu aku segera menoleh ke belakang dan mendapatinya berdiri di pintu kantin. Dia memang tak berubah, tetap rapih dan tampan. Rambut yang dulu berwarna cokelat kini menjadi warna kemerahan. Dia memakai kemeja putih lengan pendek dan celana dengan warna senada, entah mengapa sejak dulu aku selalu suka dirinya yang selalu memakai lengan pendek dibandingkan lengan panjang, dia jadi terlihat lebih muda.

Aku berdiri dan berjalan mendekatinya begitu juga dirinya sampai akhirnya aku berdiri di hadapannya. Aku tersenyum kepadanya begitu juga dirinya. “Dokter Cho mencariku? Ada apa?” tanyaku heran. Dia meraih tanganku dan menaruh kotak kecil di tanganku. “ini apa?” bingungku menatap kotak itu dan dokter cho bergantian.

“Saengil chukahamnida” ucapnya lalu membuka kotak itu yang masih tetap berada di tanganku. Aku melihat isinya ternyata kalung perak berbentuk 3 bintang kecil yang berderet rapih. Dia segera mengambil kalung itu dan memakaikannya di leherku. Aku tersenyum senang, bahkan dokter cho pun mengingatnya. “kudengar dari hyukjae hyung kamu orang yang tertutup dan tak punya teman. Kamu pasti kesepian.

Aku berharap kamu akan berubah dengan beranjaknya usiamu yang semakin dewasa ini” ucapnya lalu mengelus kepalaku pelan.

“Gomawo Dokter Cho. Aku bahkan tak tahu kalau dokter sudah kembali dari Taiwan” ucapku menatap matanya yang sejak tadi terus menatap mataku.

“iya aku baru kembali tapi 2 minggu lagi aku harus ke Cina. Aku akan bekerja disana” ucapnya mengelus tengkuknya sepertinya ia begitu lelah. “kamu tak ingin ke Cina? Ke tempat peristirahatan kedua orang tuamu?” tanyanya dan aku hanya merunduk. Benar, kecelakaan itu terjadi ketika kami masih tinggal di Cina dan mereka dimakamkan disana sedangkan aku kembali ke Korea sendirian dan ternyata Dokter Cho juga kembali ke Seoul.

Akupun menggeleng, “tidak sepertinya, aku harus membayar biaya kuliah dulu” jelasku dan kuharap dia mengerti karena kondisi keuanganku yang tak memungkinkan. Akupun berbalik dan duduk kembali ke tempat dudukku tadi dan mulai menyantap bekal yang dibawakan Kim ahjumma sedangkan Dokter Cho dan Taemin oppa duduk di depanku sambil membeli makanan yang ada dikantin kampus kami.

Setelah memakan bekalku sampai selesai, aku permisi ke toilet untuk mencuci tanganku. Ketika aku keluar dari toilet aku mendapati seorang namja berdiri bersandar di dinding yang berada di depanku.

Dia menatapku tapi aku malah dibuatnya terdiam, dia Oh Sehun. tak mau terjadi masalah lagi antara kami aku memilih melangkah pergi meninggalkannya tapi rupanya dia tak membiarkanku bebas begitu saja.

Hanya dalam kalimat yang ia ucapkan membuatku langsung mencelos dan aku yakin jika aku tak memilih keputusanku kemarin aku pasti akan langsung merasa gembira.

“Hayeon, Saengil Chukahamnida”

To Be Continued

Iklan

9 thoughts on “WHY? [Chapter 3]

  1. wah..eonni..
    Akhirnya publish juga..
    Karena blog2 ff kyuhyun kesukaanku pada fakum, aku sempet menjelajah fanfiction.net dan akhirnya sekarang malah jatuh cinta sama ff sasuke sakura..terus tadi kepikiran pengin baca ff kyuhyun dan masuk deh k bolg eonni..
    Syukur udah publish..life circle-nya belon update juga ya eonni..
    Oh ya eonni, soal remake-meremake itu aku mau minta ijin buat remake ff life circle..yah walaupun gx tau mau bikin kapan, tapi kan kalau udah dapet ijin dari yg punya jadi tenang..ijin ya eonni..aku gx akan bikin kalau eonni belum kasih ijin..jadi cepet d bales ya eonni..
    Semangat

    • mian baru bales u,u
      silahkan 😀
      tapi kalo biar ngindarin disangka kamu plagiator kamu pake bahasa kamu ya yang kreatif jangan berantakan kaya aku wkwkwkwk
      kalo bisa sertain namaku #numpangtenar (?)
      beserta keterangan kamu me-remake ff ini ya 😀
      hehehehe…

      • okke eonni..
        Masalah masukin nama eonni ke dalam ff yg nanti mau di remake ngga masalah..
        Makasih eonni udah dapet ijin..
        Aku pengin ganti cast-nya jadi chara naruto..hehe #lagi ngefans berat sama sasuke soalnya
        sekali lagi makasih eonni..
        Semangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s