Broken Marriage

Title : Broken Marriage
Author : Laras (@HS_Laras )
Genre : Marriage Life, Hurt, Angst
Ratted : PG-15
Cast :
– Hyo Nam
– Joon Ki
– Other

broken marriage

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Ketika kau harus membagi seseorang yang kau cintai dengan wanita lain, bukankah semua itu terasa menyakitkan. Semua juga akan terasa menyakitkan kalau semua orang yang berada di sekitarmu menyetujui pernikahan kedua itu.

Pada awalnya aku tak pernah tahu kalau pernikahan kedua itu telah terjadi pada suamiku, tapi apa daya aku hanyalah seorang istri yang seharusnya menuruti semua perintah semua dan segala jalan yang ia lalui. Apapun keputusannya sebagai seorang istri aku hanya bisa mendukungnya.

Memang awalnya aku tak pernah menerima pernikahan keduanya tetapi apa daya, sebagai istri aku harus mendukungnya dan mau tak mau aku harus menerimanya. Aku yakin semua berasal dari sikap egoisku yang mempertahankan seseorang disisiku sementara aku sudah menikah dengan suamiku.

Ketika aku mencoba melepaskan seseorang yang kupertahankan itu dan mencoba mencintai suamiku seutuhnya, maka saat itu juga aku mengetahui kalau aku mencintainya di saat yang tidak tepat.

Terlambat sudah semua perasaanku ini. Aku bukan tipikal orang yang bisa mengungkapkan apa yang kurasakan dengan mudah, karena terlalu lama memendam kini aku merasakan efek sampingnya.

Aku menyakiti hatiku sendiri.

Memendam segalanya, perasaan ini, kecemburuan ini, bahkan rasa iri yang saat ini sudah menggerogotiku. Tentu saja bagaimana tidak iri, ketika dia tak mau memiliki anak bersamaku tapi dia memiliki anak bersama istri keduanya itu. Bahkan dia tak peka ketika aku memberikannya sinyal kalau aku ingin memiliki anak, lantas aku ini apa ketika aku tak bisa mempunyai anak sementara aku sangat mendambakan keluarga kecil yang harmonis bersamanya.

Dia tak tahu menahu soal keinginanku bahkan dia tak tahu soal Ibunya yang terkadang menyindirku kalau aku tak bisa memberikannya keturunan sementara istri keduanya bisa. Menyakitkan, dulu mertuaku itu sangat memanjakanku tetapi sekarang ia memilih menantunya yang satu lagi.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya aku telah memasak makan malam untuknya tetapi malam-malam sebelumnya ia tak pernah pulang ke rumah kami atau lebih tepatnya rumah aku dan suamiku bukan rumah suamiku dengan istri keduanya. Aku tetap memasak meskipun tak ada kepastian kalau ia akan pulang tetapi aku Cuma berharap dia bisa kusambut baik jikalau ia pulang nanti.

“ Apa dia pulang?” kulirik jam dinding di dinding dapur dekat dengan ruang makan. Jam menunjukan pukul 8 malam tapi nampaknya tak ada tanda-tanda ia akan datang.

Jam 9

Jam 10

Jam 10.30

Sudah jam segini namun ia tak datang juga, kulihati makanan yang kubuat sudah mendingin bahkan tak tersentuh sedikitpun. Sudah 2 Minggu ia tak pulang, sudah 1 Minggu ia tak mengabariku. Aku hanya bisa mengelus dadaku dan bersabar, memang sakit dan kali ini aku benar-benar tak tahan.

Air mataku turun begitu saja, kulihat makanan dihadapanku lagi. Kuputuskan untuk memasuki makanan itu ke tempat makan Miu, kucing peliharaan yang diberikannya untuk menemaniku beberapa bulan yang lalu. Tak lama Miu datang dan memakan makanan itu, kuusap kepalanya dan sesekali tersenyum melihat tingkahnya.

Meskipun aku tersenyum, hatiku perih membayangkan segalanya dan mengingat perlakuannya, mataku terus saja meneteskan air mata saat ini aku benar-benar tak bisa menahannya.

“ Miu, kau akan selalu menemaniku kan? “ tanyaku pada Miu yang tentu saja takkan dijawabnya. “ Aku kesepian.. “ lanjutku kembali mengusap Miu sampai ekornya.

“ Aku.. “

“ Merindukannya.. “

—–000—-

Untuk melupakan semua masalah dan mengusir rasa kesepian akhirnya aku memilih bekerja di salah satu Cafe milik sahabatku atau lebih tepatnya orang yang dulu sempat aku pertahankan karena aku masih mencintainya. Ketika aku menikah dengan suamiku karena perjodohan kami tetap menjalani hubungan sampai akhirnya kami memilih mengakhiri segalanya.

Sudah hampir seminggu ini aku bekerja di Cafe ini dari jam 7 pagi sampai dengan jam 4 sore. Pada saat jam makan siang banyak pelanggan yang mendatangi Cafe dan mau tak mau aku sibuk melayani pelanggan. Namun baru aku mendatangi salah satu meja dan hendak mencatat suara seseorang menginerupsi pekerjaanku.

“ Hyo ? “

Aku sangat kenal suara itu, aku menoleh dan mendapati seseorang yang sedang memesan itu adalah suamiku. Aku tersenyum getir tetapi air wajahnya langsung berubah seperti menahan emosi. Aku menurunkan catatanku dan tiba-tiba saja ia mengambil catatanku kemudian menaruhnya di meja. Ia segera menarikku kasar keluar Cafe, aku tak memberontak tetapi hanya mengikutinya. Dia membawaku ke gang kecil di sebelah cafe kemudian dengan kasar ia mendorongku ke dinding.

“ Akh “ ringisku kemudian mengusap pundakku yang membentur dinding. “ Oppa.. “

“ Siapa yang mengizinkanmu untuk bekerja?? “ tanyanya lantang dengan mata yang mengintimidasiku.

“ Aku.. “

“ Apa kurang uang yang kuberikan?? Untuk apa kau bekerja??” potongnya sebelum aku mencoba menjelaskannya.

Aku hanya diam mendengar kemarahannya, dia sesekali menarik wajahku atau mendorongku. Aku tak ingin menyulut kemarahannya lebih dari ini, tetapi apa yang ia ucapkan padaku terkadang membuatku terpojokan.

“ Kenapa harus di tempat namja itu?? “

“ Ti-tidak..”

“ Apa kamu berniat mendekatinya lagi? Kemudian bermain dibelakangku?? “

“ Tidak…”

“ Kenapa? Benarkan itu semua, kau tak bisa menjawab berarti itu semua benarkan?? Kamu sudah tak mencintaiku lagi??”

Sudah cukup,

“ Oppa yang tak mencintaiku lagi! Oppa yang membuatku seperti ini! aku kesepian! Kemana saja kau selama ini disaat aku benar-benar merindukanmu dan membutuhkanmu?? Bersama istrimu dan anakmu?? Sedangkan aku?? Aku Cuma ditemani seekor kucing bernama Miu, kau pikir aku tak punya perasaan???”

“ Hyo… “

Akhirnya semua sudah kukeluarkan, tetapi belum semuanya sampai ia merasakan apa yang aku rasakan. Dia terdiam, mataku sudah berkaca-kaca sedari tadi. Aku mengatur nafasku kemudian kugigit bibirku mencoba menahan isakanku. Namun, tiba-tiba saja aku malah merasakan nyeri di perutku. Kuremas perutku dan kulihat tatapan suamiku yang terlihat khawatir melihatku dan kulihat matanya melebar seperti melihat sesuatu yang janggal.

“ Darah.. Hyo.. Darah!!” paniknya tapi pandanganku mulai mengabur dan tubuhku terasa lemas sampai lama kelamaan semua gelap dan aku tak merasakan tubuhku.

—-000—-

Keguguran

Satu kata itu terngiang jelas di telingaku ketika Dokter baru saja keluar dari ruanganku untuk menerangkan kepadaku dan dia, suamiku. Kini aku terbaring di ruang rawat, mataku hanya tertuju pada langit-langit dan kemudian mengingat kata-kata tadi.

Umurnya baru 1 bulan tetapi ia harus menghilang dari rahimku, aku mengusap perutku. Seharusnya ia disana dan terus berkembang tetapi dia sudah tak ada sekarang. Hal yang sangat kuinginkan tetapi malah menghilang bahkan suamikupun juga hilang bersama istri barunya.

“ Hyo.. Maafkan aku.. “ ucap suamiku terdengar di telingaku.
Ia berdiri di sampingku dan kemudian tak lama kudengar suara pintu terbuka, kulihat ke arah pintu dan mendapati mertuaku baru saja datang. Ibu mertuaku itu kini mendekatiku dengan pandangan yang tak bisa kudeskripsikan. Nampaknya aku tahu apa maksud kedatangannya kesini, Aku yakin dia hanya ingin memakiku.

“ Tak becus! Kau tak pantas jadi menantuku dan jadi calon ibu dari cucuku! “

Tepat sasaran.

Dugaanku ternyata benar dia kesini hanya untuk memakiku. Aku memilih memunggungi mereka nampaknya mertuaku tak terima perlakuanku mengabaikannya sampai aku rasakan ia memukuli diriku dengan tas mewah miliknya. Aku hanya bisa meringkuk menahan sakit dan aku tak ada niat untuk membalas perlakuannya.

“ Dasar kurang ajar! Tak tahu sopan santun! Seharusnya aku tak menyetujui perjodohan itu semua! Kau Cuma wanita tak berguna tak bisa jadi ibu yang baik, tak bisa jadi istri yang baik!” makinya lagi kemudian tak lagi kurasakan ia memukuli diriku sepertinya suamiku menahan perbuatan ibunya.

“ Eomma hentikan, dia masih terguncang! Jangan buat dia semakin tertekan!” bentaknya pada Eommanya.

Aku tak mau mendengar mereka pada akhirnya aku menutup kepalaku dengan bantal tapi tetap saja aku masih bisa mendengar suara mereka.

“ tak ada yang menginginkan ini Eomma! Hyo sudah cukup menderita!”

“ Ceraikan dia! Dia tak berguna!” teriak Eommanya sebelum akhirnya ruangan ini sepi.

Cerai?

Apakah itu jalan yang terbaik?

—-000—-

Pagi ini aku mendapatkan kunjungan yang tak terduga. Istri kedua suamiku datang membawa anaknya. Sungguh hal yang membuatku iri berkumpul di hadapanku saat ini. Mataku hanya menatap lurus ke arah TV, sesekali aku melirik mereka yang sedang bermain seperti hal yang kudambakan keluarga yang harmonis tapi sayangnya itu tak teralisasikan bersama janin yang baru saja hilang dari rahimku.

“ Eonni, apa kau mau makan? “ tanya Eunhye kepadaku.

“ Anni..” jawabku menggelengkan kepalaku kemudian mengganti channel di TV.

Dia nampak kecewa mendengar jawabanku tentu saja aku belum makan dari kemarin, tak lama ia menitipkan anaknya pada suamiku. Kemudian suamiku menggendong bayi mereka dan membawanya mendekati diriku.

“ Bagaimana lucukan ? “

Apa dia berniat menyindirku? Bukankah dia tahu kalau aku baru saja keguguran. Apakah dia berniat membuatku iri? Sepertinya tak mungkin dia berpikiran seperti itu.

Nampaknya dia terlalu polos? Atau mungkin pura-pura polos?

“ Joon Oppa.. “

“ Nde? “

“ Anak kalian lucu “ ucapku seperlunya,

“ Tentu..” jawabnya riang.

“ Oppa..” panggilku lagi

“ hmm? “ jawabnya dengan gumaman.

“ Kalian pasti akan menjadi keluarga harmonis dan paling berbahagia “

“ hahahaha.. kau bisa saja, pastinya “ jawabnya lagi seakan tak ada apa-apa diantara aku dan dia.

Lalu bagaimana dengan rumah tangga aku dan dirinya, apa dia tak mau menciptakan keluarga harmonis dan bahagia bersamaku? Mengapa dia tak berharap sesuatu yang baik dari pernikahan kami?

“ Joon Oppa “

“ Nde? “

“ Kau sudah memiliki segalanya, aku rasa aku sudah tak bisa memberikan apapun lagi kepadamu, dan aku rasa aku tak berguna. Mempunyai anak saja aku tak bisa. Aku tak mau menderita lebih lama lagi..”

“ apa yang kau bicarakan hyo??” tanyanya dengan nadanya sedikit meninggi.

“ Aku mohon ceraikan aku.. “

THE END

Iklan

3 thoughts on “Broken Marriage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s