Dear My King

912c44946ad3e2c922d3a2559b146460.jpg

 

Papa..

Papa adalah seorang raja di keluarga kami, pria yang sangat kutakuti dikeluarga kami.

Pria beruban dengan kumis tipis dan jenggot tipis andalannya. Dimana waktu diriku masih kecil dia suka mengusap tanganku ke jenggot tipisnya yang membuatku terkadang tertawa geli.

Beliau adalah seseorang yang tak banyak bicara kata sayang atau tidak terlalu menunjukan rasa sayangnya kepada keluarga. Tetapi aku tahu beliau melindungi kami, menafkahi kami, menutupi masalahnya yang rumit mungkin itu beberapa cara dia menyayangi kami.

Beliau sangat suka sekali memasak, beliau sangat suka sekali makan, beliau sangat suka sekali membuat orang disekitarnya senang, beliau sangat suka bermain piano dan begitu banyak yang beliau sukai.

Mengingat dimana ia sering mengajak diriku makan malam ketika beliau pulang kerja, dengan motor legenda andalannya beliau mengajak diriku keluar ketika pada saat itu jam sudah menunjukan pukul 22.00. Kami makan bersama di kedai kaki lima dan memesan menu andalan kami kepiting saus padang, makanan yang sama-sama kami suka. Kepiting.

Aku merindukan menu satu itu, apalagi jika sudah buatan beliau sendiri.

Saat aku kuliah semester awal, dengan motor andalannya beliau setia mengantarkanku ke stasiun atau bahkan menjemputku. Aku sangat mengingatnya dia mengantarku dengan memakai celana pendek hitam, kaus putihnya yang sangat ia suka meskipun sudah robek disekitar lehernya, jaket hitam miliknya dan memakai helm hitam. Udara dingin tak ia hiraukan hanya untuk mengantarkan putrinya ini ke stasiun Bogor.

Terkadang aku memintanya untuk tak mengantar atau menjemput diriku ke stasiun mengingat beliau cukup kerepotan, tetapi ia mengelak dan tetap ingin mengantarkanku ke stasiun dengan dalih, “Sayang ongkosnya, bagus disimpan.”

Setiap dia berkata demikian membuat diriku mengingat bahwa kondisi ekonomi kami tak sebaik dulu lagi. Meskipun begitu beliau tetap usaha melakukan apa saja untuk mendapatkan uang untuk keluarganya dan juga untuk tagihan credit card yang tidak kami ketahui sampai akhir hidupnya. Dimana ia menyimpan semua itu sendiri yang aku pikir untuk tidak membuat keluarga kami khawatir.

Satu hal lagi yang kuingat dimana, aku juga menekuni Dance Cover, dimana beliau tak suka dengan kegiatan diriku satu ini. Beliau sudah berulang kali menyuruhku berhenti tetapi meskipun demikian beliau tetap mengantar diriku ke tempat latihan dimana lokasinya cukup jauh dari rumah kami. Terkadang aku merasa bersalah tetapi dia melihatku di Dance Cover sebagai salah satu hiburanku diluar rumah.

Mungkin ini hanya sebagian kecil tulisanku yang ingin bercerita mengenai kerinduanku padanya dan membuatku mengingat beberapa kenangan dengannya. Sungguh aku merindukannya, hal yang tak bisa kusampaikan dengan mulutku sendiri yang begitu sulit adalah, ‘Aku sayang papa’.

Maafkan aku karena pernah membuatmu kesulitan, Maafkan aku karena pernah membencimu, Maafkan aku karena belum bisa memenuhi harapanmu, Maafkan aku karena aku belum menjadi anak yang baik.

Saat ini aku hanya bisa melanjutkan apa yang kau tinggalkan, berdoa untukmu semoga aku tak mengecewakanmu disini meski tanpamu.

 

-Laras-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s