Forget (Chapter 10)

Author            : Laras ( @Laraiseu )

Title                 : Forget Chapter 10 ( Sequel Of Differences of the twins fate )

Genre              : Romance, Angst

Length            : Chaptered

Ratted             : Teen        

Cast                :

  • Oh Sehun
  • Jung Jooyeon
  • Kai
  • And many more

forget-2

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Suara dentingan sendok makan beradu dengan piring menemani suasana hening di kediaman Oh Sehun dan keluarga kecilnya itu. Makan malam saat itu benar-benar tanpa ada pembicaraan di antara mereka, Joohun yang tertidur pulas di kamarnya tak ikut meramaikan ruang makan malam itu. Baik Jooyeon atau Sehun tak ada yang berniat memulai pembicaraan di antara mereka atau bisa dibilang canggung.

Melihat Jooyeon dan dirinya yang sudah menyelesaikan makan mereka, akhirnya Sehun mengalah untuk memulai pembicaraan di antara mereka.

“Jadi, kemana saja dirimu selama ini?” Tanya Sehun sembari meminum air putih di hadapannya.

“Tempat Miyeon eonnie” jawab Jooyeon singkat, mengikuti Sehun ia meminum air putih yang berada di hadapannya.

Masih menatap Jooyeon, Sehun ingin sekali mencecar istrinya ini dengan nasihat dan pertanyaan yang berkelebat di kepalanya selama ini. Mengingat kondisi Jooyeon yang sedang mengandung, sungguh Sehun ragu, ia takut akan membuat Jooyeon tertekan. Jangan lupakan kalau Sehun juga tertekan selama ini dengan sikap istrinya ini.

“Soal perceraian…” ucap Jooyeon menggantung.

“aku tak mau bercerai” potong Sehun dan Jooyeonpun menghela nafasnya cukup berat, tentu itu membuat Sehun sedikit sensitif dengan tanggapan istrinya ini. “Apa kau tidak menyukainya?” lanjut Sehun mempertanyakannya.

“Aku hanya ingin ketenangan, aku ingin melahirkan tanpa harus menanggung beban yang memikulku. Sungguh aku terbebani oleh permasalahan belakangan ini. Aku meragukan dirimu yang telah bermain dengan Saerin ketika aku tidak ada.” Ungkap Jooyeon tentang apa yang ada di dalam hati dan pikirannya selama ini.

Sehun diam sejenak.

“pikirkan Joohun dan bayi yang sedang kau kandung. Aku sungguh tak sadar ketika bersama Saerin, mengetahui kau masih hidup membuatku tak menginginkan yang lain lagi selain dirimu dan anak-anak.” Kini Sehun mengungkapkan isi hatinya, ia merunduk tak mampu melihat istrinya yag menatapnya dengan nanar.

“Bahkan sebelumnya kau meragukan ini anakmu. Lantas mengapa kau ingin aku kembali?” pertanyaan Jooyeon kini berhasil membuat Sehun kembali mengangkat kepalanya dan menatap ke arahnya.

Sehun benar-benar mendadak kelu, ia tak bisa mengatakan apapun saat ini. Di dalam dirinya ia masih meragukan hal satu itu. Mungkin pria yang benar-benar mencintai seorang wanita akan menerima anak itu meskipun itu bukan anaknya tetapi Sehun merasakan hal yang egois dalam dirinya, ia tak menginginkan anak itu.

Tak ada yang memulai pembicaraan lagi, pertanyaan Jooyeon kini hanya menggantung tanpa ada jawaban dari Sehun. Jooyeon terlihat sudah memastikan Sehun tak bisa menerima atau masih ragu dengan anak dalam kandungannya. Sudah jelas usia kandungannyapun berada dalam bulan dimana Jooyeon belum menghilang, tapi ia sungguh ingin melihat apa Sehun benar-benar meragukan dirinya sebagai istri dan tidak mempercayainya.

“Sudahlah, aku tidur lebih dahulu. Selamat malam.” Pamit Jooyeon kemudian melenggang pergi ke kamarnya yang terletak di lantai 2.

 

Jooyeon P.O.V

Bersama Kai yang katanya ditugaskan oleh Sehun untuk menjagaku aku menjenguk Baekhyun oppa di rumah sakit. Tak ingin membuat keributan nantinya aku memilih menitipkan Joohun kepada orang tuaku. Tentu saja mereka senang dikunjungi oleh cucu mereka satu-satunya itu.

“Itu kamar 237” unjuk Kai yang langsung berjalan mendahuluiku kemudian membukakan pintu ruangan dan mengintip ke dalamnya. “Ada Haerin” bisiknya ke arahku.

Aku ikut mengintip ke dalam ruangan dari belakang Kai dan benar saja ada Haerin yang katanya adalah mantan kekasih dari Baekhyun oppa. Menurut Kai, Haerin masih sangat mencintai Baekhyun oppa meskipun ia tahu kalau Baekhyunnya itu terobsesi padaku. Sungguh hatiku terasa tidak enak kepadda Haerin mengenai Baekhyunnya yang begitu menginginkan diriku bukan dirinya.

Andaikan ia sadar betapa Haerin mencintainya.

“Joo.. Yeon..” samar-samar terdengar dari dalam ruangan seseorang menyebutkan namaku tetapi dari suaranya sudah dapat kuyakini itu Baekhyun oppa yang masih terbaring belum terbangun dari tidurnya.

Namun tidak lama selingan suara isakan terdengar menggema di seluruh ruangan itu bahkan terdengar olehku dan Kai yang berada di ambang pintu. Mendengarnya aku merasa bersalah padanya meskipun aku sadar benar kalau ini bukanlah kesalahanku yang sudah jelas-jelas aku tak menginginkan Baekhyunnya. Tetapi Baekhyun oppa benar-benar terlalu terobsesi padaku.

Aku menatap Kai yang kini menatapku juga. Aku kebingungan dengan kondisi ini dan merasa sungguh miris.

“Apa aku harus menemuinya? Aku tak ingin ia terluka” bisikku.

“Terserah padamu. Melihat seperti ini lebih baik untuk tidak muncul.” Balas Kai berbisik.

Kuputarkan tubuhku dan berjalan menjauhi ruangan yang membuatku merasa bersalah pada Haerin. Sungguh ini semua terlalu rumit untuk kuhadapi.

Baekhyun.

Sehun.

Dan wanita-wanita yang mencintai mereka.

Mendadak pandanganku seperti berputar-putar dan segera kucari sandaran di dinding namun terlalu jauh. Kakiku gemetar juga lemas. Rasanya aku tak mampu menopang tubuhku ini.

“KAI!” Refleksku tanpa sadarku memanggilnya yang tiba-tiba terlintas di benakku hanya Kai saat ini.

“Jooyeon! Hei! Kau kenapa?” paniknya segera menopang tubuhku yang nyaris mendarat di lantai kalau saja dia tak cekatan memeluk tubuhku. “Kau tahu. Bagiku kau sok jagoan untuk seorang ibu hamil” omelnya tapi ia segera mengangkatku entah tujuannya kemana yang jelas setelah itu pandanganku mulai gelap dan aku tak sadar akan apapun yang terjadi setelahnya.

 

—–000—–

“Kai” panggilku ketika mataku mulai terbuka menerima cahaya terang dari suatu ruangan. Aku hanya mengingat Kai karena terakhir kali sebelum aku tak sadarkan diri aku bersamanya.

“Ini aku” suara ini berbeda dengan suara Kai.

Kutoleh ke sampingku dan melihat seseorang duduk disana melihatku dengan ekspresi wajah yang tak dapat kudeskripsikan. Seperti menahan amarah tapi dilain sisi matanya memerah seperti habis menangis.

“Sehun…” gumamku.

“AKH!”

Sial perutku sakit ketika kucoba memaksakan diriku bangun.

“Sedang apa kau?? Berbaring saja!” perintah Sehun suaranya menaik satu oktaf. Terdengar geram melihat tingkahku kemudian ia mendorongku untuk kembali berbaring.

“Kenapa? Aku ingin pulang. Aku hanya pingsan biasa nanti juga pulih sendirinya!” balasku tak kalah geram.

“Siapa bilang kau pingsan biasa?? Kau sudah 2 hari tak sadarkan diri dan kau habis operasi!” Sehun tampak tak mau mengalah dengan balasanku yang begitu kesal karenanya.

Aku terdiam.

Tak sadar 2 hari?

Dan operasi?

Operasi apa?

“Apa yang terjadi? Aku operasi apa?” tanyaku kebingungan melihat Sehun tapi yang kudapati malah air matanya dan ia berbalik memunggungiku.

Pundaknya bergetar. Suara isakannya terdengar. Ia menangis.

“Dia tidak hidup lagi dengan terpaksa…. Anak dalam kandunganmu harus diangkat.. anak perempuan itu tak hidup…” ucapnya begitu getir.

Bercanda.

aku menatap Sehun tak percaya. Aku mencoba menelisik kebohongan dibalik matanya tetapi yang kuyakini semua itu nihil. Aku tak menemukan kebohongan dari matanya. Sungguh hatiku terasa panas mendengarnya lebih panas daripada aku mendengarkan hubungan dia dengan wanita lain.

“Jangan bercanda Oh Sehun” hardikku yang langsung mencoba mendorongnya menjauh dariku. “Kalau kau mau bercanda bukan di saat seperti ini Oh Sehun sialan!” makiku kembali mencoba mempertanyakan keadaan yang masih aku belum tahu pasti apakah ini kebohongan yang sesungguhnya ataukah tidak.

“Apa kau melihat kebohongan dari mataku?” balasnya menatapku dengan begitu nanar.

Aku tak bohong. Aku membencinya.

“Berhenti”

“Sudah!”

“Pergi Kau!” lantangku mengusirnya pergi.

Bukan aku membenci seorang Oh Sehun tapi keadaan ini membuatku tak bisa berpikir selain aku ingin menangisi ini semua dan sungguh kenyataan ini serasa membakar tubuhku juga ingin membuatku menghabisi hidupku.

Anak yang kuperjuangkan tak hidup dan memilih untuk diangkat.

“Kai. Tolong jaga Jooyeon” samar-samar kudengar suara Sehun yang meninggalkan kamar digantikan Kai yang diperintahkan olehnya.

Aku kemudian melihat kearah Kai. Matanya tak jauh menunjukan rasa simpatik dan kasihan melihatku. Aku tak peduli dengan pandangan itu tetapi Kai adalah orang satu-satunya yang bisa mengerti aku semenjak Baekhyun menculikku sampai saat ini.

“Kai…” panggilku dan suaraku benar-benar terdengar menyedihkan bahkan untuk didengar oleh diriku sendiri.

Ia diam saja tak menanggapi panggilanku tetapi kemudian ia mengusap kepalaku dan menaruh kepalaku diperutnya dan dipeluknya. Benar saat ini aku membutuhkan pelukan dan dukungan. Aku tak ingin Sehun karena aku merasa ketika aku melihatnya masalah yang aku hadapi belakangan ini benar-benar membayangiku dan membuat kehidupanku terasa lebih berat walau hanya sekedar bayangan masalah.

Aku tak bisa seperti ini selamanya dengan Sehun tetapi dilain sisi aku masih memikirkan anakku satu-satunya Joohun. Apa yang bisa ia dapatkan ketika kami berpisah nanti akan terasa buruk. Tetapi aku benar-benar tak tahan dengan ini semua dan aku ingin memilih keegoisanku untuk mengakhiri semuanya.

Semua termasuk berpisah dengan seorang Oh Sehun.

“Apa aku harus akhiri semuanya?” tanyaku menggantung.

“Pikirkan jalan terbaik untuk Joohun bagaimanapun dia tanggung jawabmu juga di dunia” Kai menjawab dan membuatku kembali harus memikirkan anakku satu-satunya.

Ya benar.

Anakku yang harus kupikirkan apa yang terbaik untuknya dan apa yang akan berimbas padanya ketika aku memilih berpisah dengannya.

“Apa kau akan bahagia dengan berpisah?” tiba-tiba samar-samar terdengar suara seseorang di ambang pintu tepat dibelakang Kai.

Suara Eomma.

“Eomma..” panggilku menyebutnya setelah melepaskan pelukanku dari Kai dan melihatnya yang berjalan mendatangiku. “Aku…”

“Jika memang jalan terbaik adalah berpisah maka berpisahlah. Kau tak bisa terus menderita. Kami akan membantumu untuk menata masa depan Joohun dengan baik. Kau takkan sendiri Jooyeon..” ucap Eomma yang kemudian mengusap pipiku dengan lembut.

Aku diam tapi kemudian air mataku kembali mengalir deras melihat dan mencerca ulang perkataan Eomma. Eomma meyakinkanku seaakan aku takkan memikul semuanya sendiri dan akan selalu mendukungku. Sungguh aku takkan menyia-nyiakan seorang ibu seperti ini seumur hidupku.

“Dan kami juga…” kini kudengar  suara seorang wanita yang lain di belakang Eommaku.

“Miyeon.. Kyuhyun Oppa…”

Kini aku benar-benar takkan sendiri.

—–000—–

Angin malam berhembus kencang menyapu rambutku yang terurai dan angin malam terus memberikan hawa dingin yang menusuk kulitku. Atap rumah sakit menjadi tempatku menenangkan diri saat ini. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi kini aku hanya bisa memandangi perutku dimana baru saja anak perempuanku hilang di dalamnya.

Bahkan aku tak tahu bagaimana rupanya sebelum ia lahir dan sebesar apa dia di dalam perutku sebelum ia meninggalkanku. Diam diri membuatku semakin banyak berpikir masalah yang terus saja menghujami diriku. Aku mencinta Oh Sehun tetapi aku muak dengan ini semua dan aku merasa diriku telah yakin akan satu hal.

‘Perpisahan’

Jalan pikiran yang rumit mungkin inilah yang dipikirkan orang-orang kepadaku tetapi hatiku sungguh merasa gelisah. Aku merasakan kalau semua ini terus dilanjutkan akan memberikan hal yang terburuk untukku atau Sehun dan mungkin anak kami juga orang di sekitar kami.

“Setidaknya kau seharusnya memakai sweatermu Nyonya Oh Jooyeon” tiba-tiba saja kudengar suara seseorang disampingku dan menyelampirkan sweater berwarna biru tua di tubuhku.

Hangat dan wangi khasnya.

“Kai.. kau tak pulang?” tanyaku sembari mengikuti arahnya yang berjalan menjauh dan duduk di salah satu kursi kayu yang ada di sudut atap rumah sakit ini.

“Kau mengusirku nyonya? Kau tak berhak mengaturku nyonya dan aku berhak melakukan apapun sesukaku kkkk..” jawabnya sembari terkikik melihat kearahku.

Dia adalah anak buah Sehun yang bisa kusebut paling kurang ajar kepadaku meskipun aku menyandang status sebagai istri Oh Sehun. Akupun memilih mendengus menanggapi perkataanyya tapi lagi-lagi dia terkikik melihatku.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya seakan Kai tahu aku benar-benar sedang memikirkan banyak hal.

Aku menggeleng menanggapinya dan melihat ke arah jemariku. Engganku certakan karena hal ini sudah ia ketahui dan akan semakin risih kalau harus kuceritakan kembali hal dan permasalahan yang sama. Semua yang terus saja berkelebat di pikiranku dan terus saja membuatku seperti terbakar secara perlahan memikirkannya.

“Apa langkahmu selanjutnya Joo?”

“Kalau aku bercerai apa aku akan baik-baik saja tanpanya? Apa aku bisa mengarungi semuanya sendirian? Apa aku akan bisa memberikan yang terbaik untuk Joohun dengan keadaan orang tuanya yang telah bercerai?” Terusku bertanya sembari berjalan ke arah Kai untuk duduk di bangku sebelahnya.

“Apa aku bisa …”

“Bisa”

Baru aku ingin melanjutkan perkataanku. Perkataan Kai memotong pembicaraanku dan membuatku langsung menoleh ke arahnya. Ia tersenyum ke arahku dan membuatku benar-benar bingung mengartkan tatapan juga senyumannya. Kini kurasakan tanganku menghangat ketika tangan Kai menggenggam tanganku erat.

Apa ini?

“Nyonya maafkan aku yang tak professional ini. Aku percaya kau bisa dan aku juga akan menjadi salah satu yang mendampingi dirimu mengarungi semuanya bersama keluargamu.”

“Apa.. maksud..”

“Nyonya aku bersalah maafkan aku.”

“Aku mencintaimu Nyonya Oh Jooyeon”

To Be Continued

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s