Forget (Chapter 9)

Author            : Laras ( @Laraiseu )

Title                : Forget Chapter 9 ( Sequel Of Differences of the twins fate )

Genre              : Romance, Angst

Length            : Chaptered

Ratted             : Teen        

Cast                :

  • Oh Sehun
  • Jung Jooyeon
  • Kai
  • And many more

forget-2

Attention: peringatan keras! jangan copy, paste tanpa seizin saya apalagi plagiat. itu sama saja kalian seperti seorang penjahat yang mencuri karya orang lain. Jika kalian mau me-remake ulang cerita ff yang saya buat ini harap izin pada saya terlebih dahulu. Maaf jika menyinggung tapi ini demi kenyamanan kita bersama, terima kasih.

Maaf untuk yang sebelumnya udah nungguin fanfiction aku satu ini di exofanfiction. Tapi kali ini aku gak bisa share disana melainkan di wp pribadi aku dikarenakan lamanya proses publish disana, dan aku belum tahu apakah ada kepastian fanfiction aku akan dipublish ataukah tidak. Sekali lagi aku minta maaf sudah membuat kalian menunggu selama hampir 2 tahun hehehehe….

So, hope you guys enjoy it. Jangan lupa untuk comment dan like ya kalau bisa share fanfiction aku satu ini ya siapa tau ada yang juga menunggu fanfiction ini tapi gak tau kelanjutannya dimana hehehehe….

THANK YOU ^^

“Sialan kau Oh Jooyeon kau benar-benar memberikanku cobaan hidup” gerutu seorang pria yang baru saja melenggang pergi dari apartemen yang didalamnya ditempati oleh Jooyeon, Miyeon dan anak semata wayang Jooyeon, Joohun.

“Maafkan aku Cho Kyuhyun kkkkk…” Jooyeon hanya bisa ketawa ringan karena permintaannya untuk ke 3 kalinya di hari Minggu yang cerah di Los Angeles walaupun sesungguhnya benar Jooyeon merasa tak enak dengan Kyuhyun.

Berat memang bagi Kyuhyun ketika waktunya seharusnya digunakan untuk beristirahat malah digunakan untuk melayani ibu hamil yang sedang mengidam, Jooyeon. Keinginan bayi Jooyeon benar-benar mengerjai seorang Cho Kyuhyun, pasalnya dia ingin memakan jjajangmyeon untuk ke 3 kalinya padahal untuk menemukan satu menu itu di Amerika Serikat sangat sulit.

Mereka bukan di Korea Selatan jika diingat lagi.

“Bayimu gila Jooyeon” dengus Miyeon yang sibuk merapihkan ruangan tengah dimana Jooyeon ikut duduk di sofa ruang tengah.

“Kau bibi yang gila mengatai keponakanmu sendiri gila Jung Miyeon, jangan katakan anakku gila kau tak mau punya keponakanmu gila kan?” cibir Jooyeon membalas Miyeon tapi hanya dibalas dengan helaan nafas beratnya.

“Ini sudah sebulan kau menetap disini Joo, apa kau tak ada niat untuk kembali ke Korea?” tanya Miyeon yang kini nampak mengelap guci pajangannya. “Kasihan Joohun terlebih anakmu nanti, berbaikanlah..”

Mendengar arah bicara Miyeon yang tertuju pada Sehun membuat Jooyeon sebal mendengarnya, ia memilih beranjak dari duduknya menuju ke kamarnya, “Hubungi Kyuhyun oppa, tak usah memesankan Jjajjangmyeon lagi.”

“Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku Jung Jooyeon!” lantang Miyeon namun yang terdengar hanya derap langkah Jooyeon dan suara pintu kamarnya yang tertutup cukup kencang.

 

Sehun POV

“Ada perlu apa lagi?” dengusku melihat wanita yang terus saja mengusik hidupku belakangan ini dengan mendatangi rumah yang seharusnya kutempati dengan istri dan anakku, hampir setiap pagi wanita ini datang. Sungguh menjengkelkan.

Kutatap sinis wanita di hadapanku yang masih berdiri di depan pintu rumah, “pulang saja” ujarku lalu menutup pintu rumah lebih tepatnya aku muak harus menghadapi seorang Saerin.

“Oppa!” ralatnya segera menahan pintu rumah untuk menutup dan langsung menyelonong masuk ke dalam rumah. “Apa kau sudah makan? Apa kau tidak mau jogging denganku di minggu pagi ini?” cecarnya dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah pasti jawabannya akan aku elak untuk berurusan dengannya walau hanya 5 menit.

Pasca hilangnya Jooyeon untuk kesekian kalinya wanita ini benar-benar membuat hidupku semakin memusingkan cara agar mengusir pergi dirinya. Sungguh aku butuh istirahat dan memikirkan cara untuk menemukan anak dan istriku yang terdengarnya lebih baik ketimbang harus memikirkan wanita sialan ini.

Kebodohan terbesar karena pernah membiarkannya masuk dalam kehidupanku walau hanya sekejap.

“Kumohon nona Saerin, berhenti mengusikku. Aku punya anak dan istri. Jangan berpikir aku akan membiarkan kau masuk dalam kehidupanku” jengah sudah aku memberitahukan wanita keras kepala sialan satu ini.

Bukannya mendengarkanku dengan baik dan pergi ia malah terkikik mendengar perkataanku, apa lagi mau wanita ini.

“Anak? Istri? Wanita manja dan tidak dewasa sepertinya yang hanya bisa kabur-kaburan tanpa menyelesaikan masalah kau sebut dirinya istri?”

Okay, kali ini aku benar-benar termakan perkataannya satu ini. Tak menyelesaikan masalah dan kabur dari rumah, satu hal yang benar kata Saerin. Tidak dewasa.

Sialan, aku tak bisa berbicara apa-apa. Dan sekarang wanita ini malah memelukku dari belakang.

“Aku pikir aku masih memiliki kesempatan Oh Sehun untuk memilikimu”

Oh Jooyeon, saat ini aku benar-benar ingin tahu apa maumu melanjutkan atau mengakhiri?

Jooyeon POV

TING TONG

TING TONG

TING TONG

Sialan siapa malam-malam begini yang tidak sabaran memencet bel apartemen, suaranya benar-benar mengganggu dan bahkan orang ini tak perlu berulang kali untuk memencet bel sungguh suara bel ini sudah tak bisa dihitung dengan jari.

“Berisik!” lantang Joohun menutup telinganya di ruang tengah yang sedang menonton kartun kesayangannya, Barney. Oh, bahkan anakku bisa mendeskripsikan suara bel ini benar-benar memekakan telinga.

“Bisakah kau bersa….” Keluku ketika aku hendak mengeluh saat membuka pintu dan menyaksikan seseorang bertengger dengan manisnya di pintu apartemen kami, atau lebih tepatnya apartemen Miyeon.

“Jung Jooyeon kau benar-benar membuatku harus bekerja ekstra!” keluhnya sembari menarik kopernya masuk ke dalam. “Kau tidak tahu betapa tuan besar Sehun itu membuatku benar-benar kurang tidur untuk mencari istrinya yang kabur dari rumah.”

“Sialan, sungguh kalau aku tidak membutuhkan uang di dunia ini aku akan segera berhenti bekerja untuk melayani suamimu itu!” lanjutnya lagi mengeluh sembari memasuki apartemen dan aku masih tak bisa berkata apa-apa ketika melihat Kai sampai di sini.

“Bagaimana kau ta..”

“bagaimana aku tahu kau di sini? Asisten rumah tanggamu benar-benar bisa diajak bekerja sama” sambarnya lalu mendudukan dirinya di sebelah Joohun. “Apa? Kau mau memecatnya? Tenanglah Nyonya Oh Jooyeon aku takkan mengatakan kau berada di sini. Mmmm… hanya untuk beberapa saat saja sampai aku mendapatkan keputusan darimu untuk memberitahunya kau ada disini.”

“Terima kasih..” jawabku melemah karena sungguh aku bisa mempercayai Kai saat ini dan bisa menemaniku disaat kesepian.

Kegiatan Miyeon bekerja sangat menyita waktu dan tak ada waktu untuk kami kecuali weekend. Kyuhyun oppa juga tak ada bedaya dengan Miyeon cuma profesinya sebagai seorang dokter terkadang membuat jadwalnya tak menentu karena ada jadwal operasi yang tak jarang mendadak ada.

“Aku butuh liburan saat ini, ah iya ngomong-ngomong kau perlu tahu sesuatu soal Baekhyun hyung.”

Sebenarnya aku tak ingin tahu lagi tentangnya tapi mulut Kai yang tak bisa diam sejak tadi membuatku tak bisa mengelak lagi untuk sekedar memberhentikan mulutnya yang sungguh cerewet bagai siaran radio.

“Dia mencoba bunuh diri,” ucap Kai yang berhasil membuat mataku melotot ke arahnya, “Jangan menatapku seperti itu, dia benar-benar sekarat tanpamu. Kupikir Hayeon akan bisa menyembuhkan rasa kehilanganmu tapi tidak, dia 2 kali mencoba bunuh diri.” Lanjutnya dan tentu saja lagi-lagi kata-kata Kai membuat mataku membesar lagi.

“Seperti itukah dia? Apa aku salah..?” gumamku memikirkan semua kejadian belakangan ini.

“Salah.” Serang Kai begitu saja menyalahkanku, “Dewasalah, lari tak akan menyelesaikan segalanya. Selesaikan urusanmu dengan Sehun apapun hasilnya harus kalian pikirkan juga bagaimana nasib Joohun dan anak dalam kandunganmu itu.”

Kali ini aku hanya bisa merunduk merutuki diri sendiri yang tidak bisa berpikir dengan baik dan kekanakan memilih jalan untuk kabur tanpa memikirkan anak-anakku. Mataku memanas, buliran mata mulai menggumpal di mataku ketika air mataku terjun, Kai memelukku dan mengusap kepalaku serasa ia ingin menenangkanku juga memberikanku dorongan untuk kuat.

“Tak apa, kau bisa selesaikan ini semua. Aku akan ada disisimu” ujarnya menenangkanku selanjutnya aku semakin terdiam ketika Kai mengecup dahiku.

—–000—–

2 minggu setelah kedatangan Kai ke Amerika, kali ini kami kembali ke Korea bersama-sama dan aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku menyayangi anak-anakku dan aku harus memikirkan mereka, aku mencintai suamiku tapi sungguh aku meragu sejak bagaimana dia memperlakukanku belakangan ini.

Kai sudah memberitahu Sehun sebelumnya kalau Kai akan membawa diriku dan Joohun untuk pulang kepadanya. Kini kakiku perlahan mulai menapaki kembali halaman rumah kami, kutoleh ke belakang dan melihat Kai yang tengah menggendong Joohun yang sedang tertidur. Kai menganggukan kepalanya dan tersenyum seperti menyampaikan pesan semua akan baik-baik saja.

“PERGI!” suara bentakan keras terdengar dari ambang pintu rumah dan kudapati Sehun mendorong seorang wanita keluar dari dalam rumah. “Aku muak padamu, jangan kembali lagi ke sini atau kau akan benar-benar kulaporkan polisi karena meresahkan!” geramnya menunjuk wanita itu dengan begitu menuntut.

Aku terdiam di tempatku berdiri dan masih menatap Sehun dari kejauhan, tapi akhirnya Sehun menyadari kedatanganku. Ia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kudeskripsikan, aku tetap diam tapi Sehun juga terlihat nampak masih terkejut melihatku ada dihadapannya saat ini meskipun jarak kami masih jauh.

“Jooyeon..” gumamnya.

“cih dia kembali” decak wanita yang tadi diusir oleh Sehun dari dalam rumah, ia Saerin.

Sehun hendak berjalan mendekatiku, senyum merekah di bibirnya yang mendapati aku dan Joohun telah kembali. Baru akan mendekati diriku tangan Sehun ditarik oleh Saerin mau tak mau membuat Sehun menatap Saerin dengan begitu garangnya. Aku terdiam, wanita ini apa yang diinginkannya.

“Lepaskan aku nona, kau tidak berhak untuk menahanku” sinis Sehun dan dengan kasarnya ia menepis tangan wanita itu tapi tentu saja wanita itu tak putus asa, ia kembali memeluk lengan Sehun. “Sialan, lepaskan!” perintah Sehun pada Saerin dengan nada suara yang semakin meninggi.

Aku jengah melihat tingkah wanita ini, sungguh aku mengingat kata-katanya yang menyebut anakku anak haram. Melihat tingkahnya ini sungguh aku ingin memaki dirinya dengan sebutan, wanita murahan.

“Sebaiknya kau masuk, aku akan mengurus wanita ini untuk pergi dari sini” suara Sehun kini terdengar dan kali ini suaranya ditujukan untuk memerintahkanku masuk ke dalam rumah. Aku mengangguk tetapi kakiku rasanya masih terasa berat untuk beranjak dari sini karena aku harus melewati wanita itu, “cepat Jooyeon.” Perintahnya lagi.

Kuhela nafasku sejenak kemudian berjalan ke dalam rumah diikuti Kai yang tengah menggendong Joohun dalam pelukannya. Baru aku ingin membuka pintu, wanita sialan itu memakiku lagi.

“penjilat! Masih berani kembali?”

Kulihat wanita itu jengah sungguh rasanya kalau melihat wanita itu aku ingin menyumpalkannya dengan popok bayi.

“Ya terserah padamu saja nona” jawabku masa bodo dan kembali melenggang masuk ke dalam. Sungguh kali ini aku tak ingin menunda untuk menyelesaikan ini semua.

Kududukan diriku di sofa ruang tengah tentu aku duduk dengan bersusah payah lihatlah perutku yang sudah menginjak usia nyaris 7 bulan. Melakukan perjalanan jauh bukan hal yang mudah, Amerika Serikat – Korea Selatan, kalau tak demi menyelesaikan ini semua aku benar-benar malas menanggung beban ini.

15 menit berlalu tak hentinya suara debat kedua orang tadi selesai juga, bahkan Kai baru saja membuatkanku segelas susu setelah menaruh tubuh Joohun di kamar lantai 2. Segera kusambar gelas dari tangan Kai yang bahkan ia belum ada kata untuk menyuruhku minum.

“Hish, sopanlah sedikit” dengus Kai.

“Sungguh suasana hatiku buruk asal kau tahu” sungutku membalas dengusannya yang terdengar menyebalkan itu. “Oh ya, kurasa aku harus menjenguk Baekhyun oppa besok, apa kau bisa mengantarku?”

“Baekhyun?” bukan suara Kai yang kudapat kini malah suara Sehun yang memotong permintaanku kepada Kai.

Tentu saja ini pasti akan membuatnya panaskan?

“Untuk apa lagi kau berurusan dengannya?” tanyanya begitu menelisik bahkan matanya itu benar-benar sudah memicing kepadaku.

“Ah itu, dia sedang kritis di rumah sakit” tak juga kujawab akhirnya Kai yang memilih menjawab. Sehun diam tapi nampaknya kali ini dia ingin memakan seorang Kai, “mmm.. aku hanya memberitahukan kenyataan…” jawabnya pelan.

“Yah, begtu” lanjutku.

Merasakan perutku yang mulai tak mengenakan dan badanku yang terasa sakit karena lelah setelah perjalanan jauh aku beranjak dari dudukku dan berjalan ke lantai 2 menuju kamar yang kutempati terakhir kali.

“Kita masih harus berbicara Jooyeon”

“Nanti malam saja, aku lelah…”

Author POV

Melihat Jooyeon yang baru saja memilih melenggang pergi untuk mengistirahatkan dirinya, Kai menduduki dirinya di sofa disusul oleh Sehun. Sehun berdeham Nampak ingin meminta penjelasan dari Kai atas apa yang terjadi belakangan.

“Terima kasih telah membawanya kembali”

“Tak masalah..”

“aku akan membayarmu sesuai perjanjian”

Mendengar Sehun berkata demikian nampaknya malah diterima Kai dengan berat hati, Kai memijat dahinya sejenak dan kemudian melihat ke arah Sehun. Ia tak menginginkan bayarannya itu.

“Lupakan saja. Aku hanya ingin jika terjadi kemungkinan terburuk dalam pernikahan kalian, aku akan mengambil bayaranku saat itu..” ucap Kai menggantung.

“Maksudmu?”

Kai tersenyum sejenak kemudian ia beranjak dari duduknya, melihat sekitar sejenak dan kembali melihat ke arah Sehun yang sudah menatapnya penuh dengan pertanyaan yang tersirat di matanya itu.

“Yah, seperti itu..” jawabnya menggantung dan akhirnya Kai memilih meninggalkan rumah itu.

To be continued

Guys, untuk kalian yang ingin berkomunikasi langsung sama aku bisa melalu twitter aku (@laraiseu) atau ask.fm aku (@laras794). Aku juga sedang dalam proses comeback dunia perfanfictionan hehehehe…. Jadi ditunggu karya terbaru aku setelah fanfiction ini ya~

Thank you sudah mampir ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s